Web Kang Aim Cimandor di Tutup, Jamaah Kecewa

angipin.id : Website Kang Aim Cimandor yang beralamat di www.kang-aim.web.id akhir pekan ini (02/04) tak bisa diakses. Website yang berisi kisah-kisah pendiri Jamaah Assysyahadatain dan para tokoh sepuh ini diminta oleh beberapa pihak agar ditutup. Alasannya, gaya penulisan yang dianggap terlalu vulgar sehingga menimbulkan kontroversi. 

Sejak dibuat, November 2016 hingga kini, website tersebut telah dilihat oleh 32.224 pengunjung. Kebanyakan, pengunjung memberi respon postif. Sambil berjalan, penulispun berusaha memperbaiki tata cara penulisan dan bahasa, meski tetap mempertahankan obyektivitas cerita, sesuai dengan apa adanya. Tanpa mengurangi apalagi melebih-lebihkan.

Viewer website kang-aim.web.id

Penulis, Ust Abdul Khakim Maula melalui Fanpagenya mengumumkan penutupan webiste tersebut.
""Mohon maaf saya sampaikan bahwa website saya www.kang-aim.web.id sedang off dan tidak dapat dikunjungi untuk sementara ini sampai batas waktu yang belum ditentukan, hal ini dikarenakan banyaknya atensi yang menyarankan agar website tersubut untuk ditutup karena belum saatnya mengangkat artikel dan cerita/sejarah yang ada didalamnya (tidak untuk halayak umum). sehingga dengan ini saya haturkan terima kasih atas partisipasi dari semuanya." tulisnya.

Status ini ditanggapi oleh warganet, pembaca setia website Kang Aim Cimandor. "Lalu bagaimana lagi kita akan tahu sejarah" tulis akun Rd Mas Aryo. Sementara akun Achonk Berlandia menambahkan "Belum waktunya kah? jadi kapan kalau ga dari sekarang? "



Saya, selaku fasilitator pembuat web tersebut, juga kecewa. Awalnya, banyak kisah-kisah Syekhuna yang tidak terdokumentasikan dengan baik, sebagai media ngaji juga ikhtiar bersama dalam mengenal Syekhuna se objektiv mungkin, website ini dibuat. Pendekatan sejarah, menurut saya juga bagian dari ngaji, karena Syekhuna, bagi saya, bagi kami generasi muda yang jarak masa hidupnya jauh adalah penting untuk mengenalnya.

Menurut saya, jika beberapa isi tulisan dianggap terlalu vulgar atau tidak pantas, sebaiknya pembaca ataupun para sepuh memberikan kritik dan saran yang membangun yang tujuannya agar gaya penulisan bisa diperbaiki, sehingga media website bisa menjadi media pembelajaran bersama. Bukan malah mem "BREDEL" website tersebut !

Saran dan kritik yang membangun, lebih bijaksana sebagai solusi. Bahkan, lebih mencerminkan sebagai Jamaah yang seringkali menjadikan ungkapan "bareng-bareng ngaji"sebagai jargon. Dari semua kisah yang tertulis, saya yakin tidak semuanya negatif (gaya penulisannya). 

Penutupan website ini, menurut saya menambah catatan negatif. Sebagai bentuk ketertinggalan dan ketidakmengertian akan situasi zaman yang sudah berubah. 




Share on Google Plus

Tentang Muhammad Arifin

Blogger kelahiran Cirebon, Mahasiswa STMIK IKMI Cirebon.
    Komentar Via Blogger
    Komentar Via Facebook

0 komentar: