Jamaah Asy Syahadatain, Antara Ormas, Thoriqoh dan Ukhuwah

Oleh : Muhammad Arifin
Santri Kalong di Panguragan, Munjul dan Kebondanas

                        " Sekedar Lamunan yang Memaksa Masuk dalam Khidmatnya Tawasul "

Jika kita bicara Jamaah Asy Syahadatain, maka tak mungkin lepas dari sosok Abah Umar, Jubah Sorban Putih, Tawasul dan Panguragan. untuk selanjutnya kita akan mengenal Munjul Pesantren, Wanantara dan Kebondanas, sekilas nama-nama tersebut identik dengan Jamaah Asy Syahadatain.


Kalau kita berkaca pada eksitensi dan peranan Jamaah Asy Syahadatain untuk Indonesia maka kita akan melihat NU dan Muhammadiyah Siapakah yang meragukan peran dan kontribusi NU dengan ratusan ribu pesantrennya sejak zaman penjajahan hingga sekarang ini? Siapakah yang berani meragukan peran Muhammadiyah dengan ratusan perguruan tinggi, ribuan sekolah dan ratusan rumah sakitnya?

Lalu apa kontribusi Jamaah Asy Syahadatain yang notabenenya di dirikan pada 1923 tersebut ? apakah karena Jamaah Asy Syahadatain adalah thorikot ? dari internal jamaah sendiri menyepakati Jamaah Asy Syahadatain bukanlah thorikot melainkan sebuah jalan hidup yang di dalamnya mencangkup Syariat Hakikat Thorikot dan Ma’rifat.

Dari eksternal Jamaah Asy Syhadatain tidak termasuk dalam 45 Thariqah NU Yang dalam kriteria fiqhnya mengikuti salah satu imam empat. Dalam aqidah mengikuti Imam Asy’ari dan Maturidi.

Jamaah Asy Syahadatain bagi kalangan  arus utama muslim indonesia hanyalah sebuah jamaah lokal mengingat begitu eksclusive dan tertutupnya interaksi Jamaah Asy Syahadatain dengan dunia luar, jika ada jamaah yang menonjol dalam kehidupan bermasyarakatnya maka identitasnya sebagai jamaah sengaja di tutupi hanya segelintir yang berani dan kokoh dalam prinsipnya itu pun di dukung dengan pemahamanya tentang dalil yang menguatkan argumentasinya. bagaimana dengan jamaah yang hanya memiliki modal wawasan keilmuan agama pas pasan ? maka taklid adalah solusinya, ada pula yang menjawab Thorikot atau Majelis Dzikir sebagai jalan pintas, sebuah inkonsistensi identitas.
 
Dari segi ke organisasian dalam tubuh jamaah asy syahadatain sendiri terdapat  organisasi yang mengatas namakan Jamaah Asy Syahadatain, sebut saja DPP Jamaah Asy Syahadatain Indonesia itu pun belum memenuhi syarat untuk sebuah ormas di mana banyak DPW yang belum terbentuk.

Terlepas dari apapun metode kepemimpinan yang di anut faktanya Jamaah ini se olah sulit untuk bersatu selain dalam  ritualitas, organisasi yang tak berjalan semestinya, terjadinya kegiatan tandingan dalam acara maulid maupun rajaban di panguragan, belum lagi dengan segelintir jamaah yang saling takfir hanya karena beda imam (Abah) yang di ikutinya.

Jika mengacu pada sejarah keberadaanya dan isi dari ajaran – ajaran Abah Umar maka hal ini sangat ironis dan justru tidak mencerminkan sebuah kelompok besar ke agamaan yang berkeinginan untuk memperbaiki ummat.

Melihat kondisi seperti ini bagaimana dengan pemuda-pemudinya ? banyak sarjana, pengusaha atau kalangan terdidik lainya yang berfikir luas dan tidak terjebak dalam fanatisme dan fatalisme keadaan. pura-pura tidak tahu ? atau memang tabu dan karena begitu ta’dzimnya terhadap guru besar sehingga menjadi tabu bahkan tak ada keberanian untuk sekedar bersuara... bersuara untuk sebuah ukhuwah antar sesama jamaah .

Baru baru ini seruan untuk bersatunya jamaah di lontarkan oleh  Abah Iqbal Bin Ismail Bin Umar Bin Yahya dalam akun facebooknya beliau menyebutkan “Dalam RENUNGAN-ku...Asy-Syahadatain akan JAYA jika Keluarga INTERN SYECHUNA dan JAMA'AH-nya...bahu membahu....tolong menolong dalam KEBAIKAN dan menuju ke-TAQWA-an...BUKAN yang menyebabkan PERMUSUHAN dan menimbulkan KEJAHATAN Hal ini dapat ter-WUJUD...jika KITA belajar dengan sekuat tenaga untuk MEMPERBANYAK persamaan dan MEMPERKECIL perbedaan.“ 


Status tersebut menjadi OASE di tengah dahaga jamaah tentang kebersatuan, selain mengajak untuk bersatu status tersebut juga menjadikan konflik internal keluarga Abah Umar menjadi konsumsi jamaah yang notabenenya adalah santri yang ingin belajar ngaji dari para pemimpinya. 


Jamaah Asy Syahadatain, sebuah nama dan identitas yang saat ini menjadi multi tafsir antara keunggulan ideologi dan implementasi ajaran islam dan segenap ketertinggalan jamaah tersebut dari sisi kemasyarakatan dan konflik internalnya yang menjadi rahasia umum.

Terlepas dari sejarah penamaan Jamaah Asy Syahadatain, saat ini baik dari kalangan sendiri maupun khalayak luas belum bisa memformalkan data-data yang bersifat struktural maupun segala hal yang memiliki keterkaitan dengan sejarah, karakter, budaya serta eksistensi Jamaah Asy Syahadatain, hal ini semakin menambah ketertinggalan. apa yang ada saat ini adalah tidak sebanding sehingga belum sepenuhnya mewakili Jamaah Asy Syahadatain.


Saat ini mayoritas Jamaah Asy Syahadatain memaknai dan menafsirkan secara pribadi-pribadi tentang arti dari Jamaah Asy Syahadatain menurut akal dan pendapat masing-masing itupun lebih condong berdasarkan pengalaman spritual pribadi dan menelan mentah-mentah perkataan dari imam yang dekat dengan masing-masing individu Jamaah, ada juga yang menemukanya secara kebetulan dari ulama non Jamaah Asy Syahadatain.

Asy-Syahadatain yang berasal dari kata Syahadat adalah sebuah kalimat sederhana penuh makna, selain sebagai kunci, syahadat adalah sebuah rumah ‘Baitul‘ bagi orang islam, rumah yang menaungi seluruh islam, bukan hanya kelompok Jamaah Asy Syahadatain saja, di dalamnya juga terdapat Muhammadiyah, NU dll yang juga disebut orang-orang islam atau ‘Muslim’.

Jika merujuk pada nama asalnya ‘Syahadat’ maka Jamaah Asy Syahadatain seharusnya mampu keluar dari lingkar fanatisme terhadap imamnya masing-masing (internal), bukan hanya untuk bersatu dalam satu bendera Jamaah Asy Syahadatain tetapi bahkan mengayomi seluruh ormas maupun aliran islam lainya di indonesia untuk selanjutnya berperan aktiv dalam pembangunan nasional bahkan dunia, sebagai implementasi dari nadzom ‘Ngaman Aken Dohir Bathin Kabeh Rakyat’ meski nadzom tersebut bagi sebagian kalangan Jamaah telah terimplementasi dalam kemasan spritiual.

Sebagai sebuah keniscayaan akibat dari semakin jauhnya para Jamaah dengan sang guru mursyid yang wafat pada 1973, adalah wajar dan menjadi sebuah kebutuhan jua ketika implementasi nadzom tersebut berekspansi dengan bungkus kolektifitas para Jamaah yang sesuai dengan kondisi zaman sekarang .

Konon, salah satu dari yang di unggulkan oleh Jamaah Asy Syahadatain adalah hanya satu-satu aliran yang bisa menjelaskan tentang rukun, syarat dan batalnya Syahadat dengan implementasi yang lebih dari kelompok lain.

Belum lagi dengan sholat sunnah yang sudah menjadi hal biasa oleh Jamaah Asy Syahadatain dzikir, tawasul, marhaban serta do’a-do’a hikmah lainya yang membuat unggul dan di unggul-unggulkan oleh Jamaah Asy Syahadatain. Dalam do’a sering kali kita berucap Kula Tiyang Bodo Kula Tiyang Salah yang justru karena sering dan terbiasanya jamaah telah larut dan tertidur menjadi orang bodo yang tak mau belajar, ngaku pinter tapi ga ada buktinya. dan menafikan semua hal yang bersifat ke umuman menjadi ke khususan.

Aurad dan Nadzom sebagai sebuah pesan mendalam hendaknya jangan di jadikan kalimat nyanyian penghilang gelisah hidup semata, tetapi spirit yang terkandung di dalamnya mampu kita bagi dan aktualisasikan dalam kebersamaan untuk Jamaah dengan cara yang elegan, dinamis dan terintegritas.
Ini bukan sebuah ajakan tentang organisasi tapi sebuah panggilan fitrah, adalah fitrah jika manusia hidup kemudian berkembang, adalah fitrah jika NGAJI memiliki tolak ukur kesuksesan yang tidak harus selalu bicara maupun bekerja dalam bentuk ritualisme peribadatan saja.
                       
                            " Sebuah kebaikan akan terkalahkan oleh kejahatan yang terorganisir "
 


Share on Google Plus

Tentang Satria Kawijaya

Blogger kelahiran Cirebon, Mahasiswa STMIK IKMI Cirebon.
    Komentar Via Blogger
    Komentar Via Facebook

0 komentar: