Kisah Pembekuan Jamaah Asy Syahadatain pada Tahun 1964

Akhir-akhir ini ummat islam Indonesia resah dengan keberadaan suatu kelompok atau firqah dalam islam yang di anggap menyimpang dari Aqidah dan syariat agama islam, Seperti yang sudah di ketahui oleh publik bahwa ajaran ahmadiyah  Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908M) mengaku diutus Allah (sesudah Nabi Muhammad saw), Mirza Ghulam Ahmad mengaku diutus Allah untuk seluruh manusia (sesudah Nabi Muhammad saw).

Ahmadiyah Memiliki Kitab Suci sendiri namanya Tadzkirah, yaitu kumpulan wahyu suci (wahyu muqoddas). Mirza Ghulam Ahmad mengaku diberi wahyu Allah dan masih banyak hal lain yang secara prinsipal aqidah islam telah jauh menyimpang sehingga timbulah gejolak di kalangan muslimin indonesia, dari mulai pembubaran, hingga pembekuan dan adanya usulan agar ahmadiyah menjadi sebuah aliran kepercyaan karena telah keluar dari koridor agama islam.

Hal ini mengingatkan tentang peristiwa pembekuan  Jamaah Asy Syahadatain pada tahun 1964, di mana menurut kisah sejarah Jamaah Asy Syahadatain Abah Umar yang di rilis oleh Abdul Khakim Maula SPd dalam bukunya yang berjudul Mencari Ridho Allah  di sebutkan bahwa : 

"Pengajian jamaah asy syahadatain semakin ramai, maka para kiai jawa (yang tidak senang) mendengar kepesatan Asy-Syahadatain, sehingga mereka khawatir para santrinya akan terbawa oleh Abah Umar, sehingga para kiai tersebut berkumpul untuk menyatakan bahwa ajaran Abah Umar adalah sesat. Akhirnya Abah Umar disidang di pengadilan Agama yang dikuasai para kiai tersebut pada saat itu, dalam pengadilan pun Abah Umar ditetapkan bersalah dengan tidak ada pembelaan dan penjelasan apapun. Akhirnya Abah Umar pun dipenjara bersama beberapa murid-muridnya termasuk KH. Idris Anwar selama 3 bulan, namun belum genap 3 bulan Abah Umar sudah dibebaskan karena sipirnya banyak yang bai’at syahadat kepada Abah Umar."

Kisah ini di perjelas kembali oleh KH. Fathoni dari Desa Cipeujeuh Kulon salah satu pengamal Asy Syahadatain yang pernah mengalami masa masa pembekuan, dimana pada masa itu seluruh kantor pemerintahan kota hingga kantor balai desa di berbagai wilayah yang ada warga Jamaah Asy Syahadatain nya di penuhi oleh surat atau petisi penandatanganan tentang ajaran abah umar di bekukan, hingga pada saat surat pembekuan itu di bagikan kepada warga pengamal ajaran asy syahadatain abah umar .

KH. Fathoni pun menceritakan interaksi antara dirinya dengan si pengantar surat/pejabat staf pemerintah desa atau dalam bahasa daerah setempat pak Lugu :

Pak Lugu " assalamualaikum ?
Ky, Fathoni "Wa alaikum salam ? eh... Mangga pak lugu silahkan masuk... "
Pak Lugu " iya , trima kasih,, sy kesini hanya ingin menyampaikan surat pak kyiai .."
Ky Fathoni "oh,, surat apakah itu pak lugu .. ?
Pak Lugu " ini surat dari balai desa tentang pengikut ajaran syahadatain abah umar, karena di dusun ini banyak pengamal syahadatain abah umar... "
Ky Fathoni : " loh memang kenapa dengan kegiatan pengajian kami pak .. ?"
Pak Lugu : "ini ada surat pembekuan, pelarangan segala apapun tentang kegiatan ajaran abah umar pak kyiai ... "
Ky Fathoni : "Kalau begitu mari silahkan masuk dulu pak lugu, silahkan duduk mari kita bicara kan, sy masih belum faham ,, apa sih yang di bekukan ? 
Pak Lugu : ' Iya , pak kyiai mangga .. "
(setelah duduk Ky.Fathoni membaca surat edaran tersebut dengan seksama) 

"Begini pak lugu ? ajaran abah umar adalah ajaran yang mendalami dua kalimat syahadat Asyhadu ala ilaha ilallah Wa asy hadu anna muhammadurosulullah dan sholawat, Apakah itu yg di bekukan ? tanya pak kyiai pada pak Lugu...
Pak Lugu "bukan itu pak kyiai, itu bagus...."
Kyiai : "Abah umar mengajarkan sholat fardhu, sunnah rawatib, tahajud, dhuha, dan kami di bimbing untuk selalu berdzikir kepada allah dengan amalan amalan yang bersumber pada Qur'an Hadits Ijma dan Qias, apa itu yg di bekukan ... ?
Pak Lugu : ' Bukan itu..... ?
Kyiai : "Lalu apanya yang di bekukan ... ?
Pak Lugu : "Maaf kan sy pak kyiai saya hanya orang bodoh, saya hanya di suruh oleh atasan mengenai alasanya saya tidak tau ..... "

Gejolak itu pun terjadi dimana dimana, ketika warga dan pengamal asyahadatain mempertanyakan alasan pembekuan di dapati alasan yang sama yaitu "Tidak Tau, sy hanya di suruh .. "
Sehingga terjadi pembelaan di berbagai wilayah dan di adakan musyawarah seluruh alim ulama se Indonesia di sebuah hotel di Cirebon (menurut riwayat lain di bandung) yang di hadapi oleh beberapa Kyiai di antaranya Ky. Khozin dari Munjul Pesantren Cirebon, dan pertemuan itu menyimpulkan bahwa "Tidak ada kesesatan atau penyimpangan dalam tuntunan yang di ajarkan Habib Umar (Abah Umar ) ".



Share on Google Plus

Tentang Satria Kawijaya

Blogger kelahiran Cirebon, Mahasiswa STMIK IKMI Cirebon.
    Komentar Via Blogger
    Komentar Via Facebook

0 komentar: